Rabu, 03 Agustus 2016

Profil Desa Kuncen

Posted By: Media Kuncen - 21.02

Share

& Comment



Istilah Caruban, berasal dari kata Carub yang berarti campur, dahulu ada sesuatu tempat berkumpulnya para pejabat, bangsawan, rakyat jelata, dan para priyayi untuk keperluan adu jago , tempat ini kemudian disebut caruban. Majalh Altona menerangkan, bahwa pada masa kekuasaan Hindu Jawa yang berpusat di Ngurawan (Dolopo sekarang), ada sederet perkampungan unutk menempatkan para penjahat, pemberontak dan para tahanan politik di pisahkan dari tempat tinggal dan lingkungannya, orang-orang ini diberi tugas menanam pohon jati. Tetapi hipotesa ini kurang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Yang jelas desa-desa di Caruban merupakan desa-desa tua, karena itu sudah sepantasnya Caruban pernah menjadi Ibukota kabupaten pada masa Kerajaan Mataram Islam. Dan bahkan sekarang mulai dirintis menjadi ibukota Pemrintah Kabupaten Madiun, setelah adanya perluasan wilayah Pemerintah Kota Madiun.
Pada masa perang Trunojoyo, Caruban unutk pertama kalinya dilalui pasukan kompeni Belanda bersama prajurit Mataram di bawah Jnedral Anthoni Hurd dengan 214 tentanra Belanda dan 1.000 prajuri Mataram. Pada 5 Oktober 1678 merekaa melintasi Caruban dari penyerangan di Desa Kajang, Kec. Sawahan, menuju wilayah Kediri untuk mengejar pasukan Trunojoyo.
Pada masa perang Suropati pada tahun 1684 dan masa perebutan tahta kerajaan Mataram, Kartasutra antara Sunan Mas dengan Pangeran Puger pamannya, rakyat Caruban besar andilnya dalam ikut berjuang melawan tentara company (VOC) salah satunya di bawah pimpinan Demang Tampingan yang bergabung dengan Pangeran Mangkunegoro IV Wedono Bupati Mancanegara Timur, Madiun.
Desa Krajan merupakan pusat pemerintahan Kabupatn Caruban, kemungkinan Bupati pertama dijabat oleh Raden Cokrokusumo I atau disebut Tumenggung Alap-alap. Ia semula pejabat tinggi di Demak, beliau adalah putra sulung Raden Pecat Tondo II majapahit yang terakhir. Bupati ke dua adalah Raden Cokrokusumo II sering disebut Tumenggung Emprit Gantil, kemudian berahta Raden Tumenggung Notosari. Raden Tumenggunf Notosari adalah putra dari Bupati Jipang yang bergelar Raden Tumenggung Purwowijoyo. Beliau adalah putra Pengkubuwono I dari selir, jadi Bupati Notosari adalah cucu raja besar Mataram.
Dari perintah Bupati Notosari inilah kemudian salah satu desa di Caruban yaitu Desa Kuncen yang terletak di selatan Desa Sidodadi menjadi Desa perdikan sebagai tempat makam Bupati Caruban beserta kerabatnya. Bupati Notosari sebelum beratahta di Caruban merupakan salah satu bangsawan di istana Kertasura. Setelah wafat, beliau di makamkan di Makam Kuncen Caruban, dengan biaya pemakaman dari Kartasura. Selain Bupati Notosari, di Kuncen Caruban juga di makamkan para keraba dan pengikut-pengikut setianya.
Sebagai Desa Perdikan, Desa Kuncen, Caruban dibebaskan dari pajak dan diberi otonomi seluasnya, dengan tanggung jawab merawat makam para Bupati Caruban, beserta kerabatnya. Piagam tentang kemerdekaan desa ini masih ada, yang menunjukkan tahu Wawu 1627 saka atau tahun 1705 masehi, oleh Sunan Pangkubuwono I.
Bupati berikutnya adalah Raden Tumenggung Wingnyosubroto, putra Bupati sebelumnya, memindahkan ibukota Caruban ke pusat kota Caruban sekaran atau disebut Desa Tompowijayan atau Bangunsari sekarang.
Bupati terakhir adalah Raden Tumenggung Djayengrono, putra Bupati Ponorogo yang bernama Pangeran Pedaten. Beliau kawin dengan putri Bupati Mangkudipuro yang dipindahkan oleh Hamengku Buwono I dari Wedono Bupati Madiun menjadi Bupati kecil di Caruban, karena dianggap tidak tunduk pada perjanjian pemerintahan Jogjakarta setelah adanya perjanjian Gianti. Wedono Bupati di Madiun diberikan kepada panglima perang Kesultanan Jogjakarta, yaitu Ronggo Prawirodirjo I.
Jadi Desa Kuncen Caruban ditetapkan sebagai tanah perdikan karena merupakan tempat peristirahatan terkahir para bangsawan dari Kasunan Mataram Kartasutra. Para Bupati Caruban dan kerabanya yang di makamkan di pemakaman Kuncen Caruban, antara lain, Pangeran Mangkudipuro Bupati Madiun ke 13, Raden Cokrokusumo I, Raden Cokrokusumo II, Raden Tumenggung Notosari, Raden Tumenggung Wignyosubotro, dan Raden Tumenggung Djayengrono.

About Media Kuncen

Techism is an online Publication that complies Bizarre, Odd, Strange, Out of box facts about the stuff going around in the world which you may find hard to believe and understand. The Main Purpose of this site is to bring reality with a taste of entertainment

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2013 Wisata Religi Ki Ageng Anom Besari™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Built with Blogger Templates.